Titip rindu untuk kedua orang tuaku

Rabu, 22 Januari 2014, Tanjung Selor, Kalimantan utara

Bismillah…

mak e, pak e

Malam ini aku terbangun dari tidurku, aku terbangunkan oleh mimpi bertemu dengan kedua orang tuaku, aku sudah lama berpisah dengan kedua orang tuaku, karena harus mengejar cita-cita di perantauan, 6 Tahun di kota Padang, dan  melanjutkan mengejar cita-cita di Kota Kembang untuk beberapa tahun mendatang, yang semakin jauh dengan kedua orang tua. Pulau dan lautan yang terbentang luas menghalangiku untuk bertemu dengan mereka, ditambah saat ini aku sedang melaksanakan magang di Tanah Borneo, Kalimantan Utara, sungguh rindu ini sangat membuncah, aku ingin segera menamatkan kuliah ku dan pulang kekampung halaman merawat dan membahagiakan mereka yang sudah lanjut usia.

Ya Robb, Sampaikan rasa rindu ini, rasa rindu tiada tara  kepada mereka dan jagalah mereka agar selalu sehat dan taat beribadah kepadaMU ya Robb.

Akhir-akhir ini aku selalu memikirikan mereka, terutama Bapak, yang kondisinya sudah tidak sehat,  sering sakit-sakitan dan menangis ketika aku menelponnya. Suatu hari aku menelpon ibuku, ia menceritakan kondisi Bapak, kata Ibu, beliau sekarang sering menangis ketika disebut namaku atau mengtahui aku sedang menelpon, ya Robb, sungguh aku tidak menyangka, dibalik sosok yang tegas ketika aku ada didekatnya, ternyata ada segunung rasa sayang untukku, ya Robb jagalah ia dengan penjagaan_MU. Ibu, Bapak  maafkanlah kesalahan dan kekhilafan anakmu ini, yang baru bisa menenggadahkan tangan meminta darimu, yang belum mampu menginjakkan kaki sendiri menghadapi kerasnya hidup ini, yang belum mampu memberimu kebahagiaan untukmu.

Masih kuingat perkataan mereka, tatkala melepasku merantau ke Kota Kembang, segala upaya mereka lakukan agar aku bisa melanjutkan perkuliahan. Malam itu mereka berkumpul dan memberikan nasehat, mereka mengusap kepalaku sambil berkata “Ndak Apa-apa, yang penting kamu bisa sekolah, meskipun nanti kalau kamu sukses, ibu dan bapak mungkin sudah tiada “, ya Allah hati ini tak kuasa menahan haru, butiran kecil mengalir membasahi pipi ini, tatkala mereka berkata demikian, Ya Robb pintaku, jangan engkau ambil mereka dariku sebelum mereka mendapatiku sukses dan membuatnya bahagia.

Masih kuingat senyuman penuh dengan kebahagian di wajah mereka, tatkala mereka menghadiri wisudaku, wisuda DIII di Perguruan TInggi yang ada di Kota Padang, rasa bangga mereka yang mendapatiku bisa menamatkan perkuliahan di perguruan tinggi dengan tepat waktu dan hasil yang memuaskan, ya karena aku adalah anak pertama yang bisa menikmati menuntut ilmu sampai ke jenjang perguruan tinggi, kakak-kakakku semua tidak ada yang tamat Sekolah Dasar, sehingga kebahagian mereka begitu besar, ya Allah, jagan biarkan kebahagian mereka cukup sampai disini, aku ingin melihat senyuman meraka tatkala mereka menghadiri wisuda D4 ku nanti ya Allah.

Bapak, Ibu terima kasih atas pengorbanan dan do’a yang selalu engkau panjatkan selama ini, do’akan anakmu ini agar menjadi orang yang soleh, insyaAllah tatkala aku belum bisa memberimu kebahagian didunia ini, maka do’akan anakmu mudah-mudahan kelak aku bisa membahagiakanmu dengan memberikan mahkota di syurga Allah nanti. Sebutir nasi saja belum bisa aku membalas kebaikanmu, setetes keringatmu belum tergantikan olehku, maka izinkan aku untuk membahagiakanmu.

Iklan

6 thoughts on “Titip rindu untuk kedua orang tuaku

  1. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.. Semoga Allah melepaskan beban dan mengangkat penyakit dari bapak antum ya akhi, Semoga Allah lapangkan ia dan tenangkan ia didalam menjalankan hari – harinya.
    Ya akhi… Kita tak tahu masa hidup seseorang. Ana berharap semoga orang tua antum bisa melihat antum sukses suatu hari kelak. Tetapi jika Allah berkehendak lain. Maka coba lah untuk tetap kuat, sekuat yang dulu pernah antum katakan kepada ana ketika ibu ana telah tiada. Berat memang,,, Mudah2an Allah memanjangkan umur kedua orang tua antum dan juga bapak ana. Sekarang bapak ana juga sering sakit-sakitan. Sakit kakinya juga tak kunjung sembuh – sembuh. Terkadang terpikir bagi ana. “Sudah cukup rasanya untuk kuliah sampai disini saja. Ingin rasanya kerja, membantu bapak ana untuk menguliahkan adik ana”. Namun semakin ana coba, bapak ana dan keluarga ana malah terus mendorong ana untuk kuliah.
    Semoga Allah membalas semua yang telah orang tua kita berikan.

    Ya akhi.. Syukron ya selama ini telah membantu ana untuk tetap tegar bila ana merasakan segudang kesedihan ketika teringat seorang ibu. Jujur, sebenarnya ana sangat merasa kecil hati dan sedih bila melihat antum bahagia bisa bersama ibu dan bapak antum. Ana bahkan juga sangat merasakan kesedihan bila melihat orang lain bergandengan tangan, bercengkarama dengan ibu mereka. YA Allah.. semoga engkau lapangkan ibuku di alam kuburnya. Aamiin ya Allah.

    http://rizkisangpemimpi.wordpress.com/2014/01/21/permintaan-dan-tatapan-terakhir-seorang-ibu/

  2. Oy, tetapi ana merasa janggal dengan kata – kata antum yang ini “Duhai Malaikat dalam hidupku, ampunilah dosa anakmu ini, yang baru bisa menenggadahkan tangan meminta darimu, yang belum mampu menginjakkan kaki sendiri, yang belum mampu memberimu kebahagiaan.”

    Apakah antum salah ketik? Kalau antum meminta ampun kepada Malaikat itu termasuk sebuah kesyirikan. Karena kepada Allah lah tempat kita meminta ampun, Tetapi bila kepada Malaikat. Waallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s