Kabar dari Kampung

Bismillah…

Pelatihan Komputer Dasar di SDN 002 Tanjung Selor sedang berlangsung sore itu, aku sedang asyik menerangkan dan menjelaskan kepada peserta, tiba-tiba ada getaran terasa di saku celanaku, ternyata ada panggilan masuk, seketika itu, langsung kuihat siapa yang menelponku, betepa terkejutnya ternyata yang menelponku adalah guru mengajiku waktu kecil di Kampungku, aku terkejut ada apa beliau menelponku, apakah ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan, atau ada keluargaku yang terkena musibah ?, seketika itu muncul banyak tanda Tanya dipikiranku, untuk menjawab semua pertanyaanku, aku minta izin kepada peserta untuk mengangkat telpon, kemudian aku keluar dari ruang pelatihan untuk menerima telpon.

Kutekan tombol warna hijau di HPku untuk mengangkat telpon dari beliau, kemudian kuucapkan salam. Aku                      : “Assalamu’alaykum, gimana kabarnya mas?” tanyaku

Guru Ngaji          :   “Alhamdulillah Baik-Baik Saja, Kamu gimana kabarnya?

Aku                        : Alhamdulillah Sehat mas, ada apa mas?

Guru Ngaji          : Ngak ada apa-apa, Lagi dimana sekarang ?, nganggu apa ndak ne?

Aku                        : Lagi di Tanjug Selor mas, di Kalimantan Utara, ngak kok mas.

Guru Ngaji          : Jauh ya, ngapain disana?

Aku                        : Magang mas, sekarang lagi memberi pelatihan untuk guru SDN 002 Tanjung Selor.

Guru Ngaji          : O gitu, mas Cuma mau pesan aja, jangan lupa do’akan ayahmu ya biar cepat sembuh, sholat malam dan do’akan ayahamu biar cepat sembuh dan bisa beraktifitas seperti bisaanya.

Aku                        : (Aku Langsung Diam Sejenak, Memang ayahku sering sakit-sakitan akhir-akhir ini)

Iya Mas, InysaAllah, maafkan kesalahan orang tua saya ya mas , kalau ada berbuat kesalahan.

Guru Ngaji          : iya saya maafkan, yang penting sekarang kamu do’akan saja ayahmu  ya, sekarang lanjutkan lagi pelatihannya.

Aku                        : Iya mas, terima kasih.

 

Kurang lebih seperti itulah percakapanku dengan guru mengajiku diwaktu kecil dulu, terharu sekali rasanya, ketika beliau menggabarkan kepadaku kondisi kedua orang tuaku disana, aku sempat berfikir ingin segera pulang ke kampung halaman, agar bisa merawat orang tuaku yang sedang sakit, tapi aku juga sadar sudah berapa banyak biaya kuliah yang sudah orang tuaku keluarkan, dan aku tidak mau membuat mereka kecewa denganku, tapi sungguh hati ini sedih tatkala mendengarkan keadaan orang tuaku saat ini, Bapakku memang orangnya mempunyai kepribadian yang sangat keras, keras dalam mendidik anak-anak agar tidak menjadi manja,  ayahku sangat peduli sekali dengan pendidikan anak-anaknya, beliau rela makan seadanya sehari-hari hanya untuk menabung agar aku dan adik-adikku bisa melanjutkan sekolah, ayahku juga tidak mau memberikan sesuatu hal yang bisa membuat kami terlena dan malas belajar, contohnya saja beliau tidak mau membeli Televisi, meskipun beliau mampu membelinya, ya itu karena beliau tidak menginginkan kami terlena dengan siaran-siaran yang ada dt TV, tapi meskipun demikian, aku yakin dibalik keras sikapnya terhadap anak-anaknya ada kasih sayang yang luar bisaa pada dirinya,

Setelah aku wisuda DIII, disalah satu perguruan tinggi di kota Padang, sikap ayahku berubah drastic, diraut wajahnya telah berbinar kebahagiaan, ayahku sangat bangga dan bersyukur sekali karena aku bisa menyelesaikan kuliah DIII ku tepat waktu, malahan lebih cepat 2 bulan, Alhamdulillah kini sifat kerasnya sudah menjadi lembut sekali, mudah tersenyum dan penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Setelah wisuda aku tidak langsung pulang ke kampong, karena aku sudah diterima melanjutkan perkuliahan lagi ke kota Bandung, jadi terakhir aku bertemu dengan ayahku ketika wisuda DIII.

Perubahan sikap ayahku sangat aku rasakan, dulu ayahku tidak pernah menelponku, tapi aku yang menelponnya, tapi semenjak aku tamat DIII, beliau yang sering menelponku. Kini raganya sudah tua, kulit sudah mulai mengkeriput, karena panasnya terik matahari, akhir-akhir ini ayahku sering sakit-sakitan, berawal beliau pulang dari kebun dan jatuh dijalan, pasca beliau jatuh, beliau tidak bisa jalan, dan badannya sangat lemah sekali, akhirnya beliau dibawa ke puskesmas dan dirawat selama 2 hari, kabar ini aku dapatkan dari adikku yang kuliah di Kota Padang, Ibu dan Keluargaku memang sengaja tidak memberi kabar kepadaku, mengenai keadaan orang tuaku, karena mereke mengkhawatirkan keadaaanku.

Setelah berobat ke Puskesmas dan berobat alternative tetapi tidak ada menunjukkan kesembuhan, maka ayahku dibawa berobat ke Kota Padang, setelah beberapa hari berobat di Koata Padang, Alhamdulillah beliau sudah bisa jalan dan tubuhnya sudah mulai pulih kembali, tapi ada keanehan yang terjadi pada ayahku, setelah bisa jalan, ayahku sholatnya tidak tepat waktu lagi, belum waktunya sholat beliau sudah sholat, bahkan rokaatnya pun kurang, keadaan ayahku inilah yang membuatku sangat sedih sekali, tak henti-hentinya aku berdo’a agar ayahku segera diberikan kesembuhan dan bisa berakitfitas seperti bisaanya.

Alhamdulillah keadaan ayah sudah mulai membaik, beliau ingin sekali berkunjung ke Jawa, akhirnya di akhir bulan februari 2014 beliau ke jawa ditemani dengan ibuku, disana beliau bertemu dengan kerabat-kerabatnya dan berziarah ke makam nenek dan kakekku.

Selama ayahku sakit beliau tidak mau menerima telpon dariku, bahkan tidak mau berbicara denganku sama sekali, kata ibuku, ayahku kalau mendengarkan suarakan lewat tekpon selalu menangis, atau ada yang menanyakan tentangku, beliau langsung menangis, MasyaAllah, aku sanagat terharu, kini kerasnya sikap orang tuaku, sudah luluh menjadi kasih sayang, ayahku sangat sayang sekali denganku, aku sudah merantau selama 6 Tahun, sehingga beliau sangat rindu denganku, mudah-muadhan Allah segera mempertemukan kami kembali. Aaminn ya robb.

Hari ini aku sangat bahagia, karena ayahku mau menerima telponku dan berbicara denganku, Alhamdulillah, aku bersyukur sekali bisa berbicara dengan beliau,tapi perasaan sedih mulai mengelayuti hati ini, tatkala suara ayahku berubah drastic, suaranya berubah seperti suara anak-anak yang yang baru bisa berbicara, kata ibuku, beliau terkena gejala struk, sehingga bicaranya tidak normal, ya Allah berikanlah kesembuhan untuknya.

Setelah pulang dari jawa, ayahku tidak mau lagi menerima telponku, beliau menangis ketika tahu aku menelponya, sedih sekali rasanya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan semua ini, aku hanya bisa berdo’a, mudah-mudahan Allah segera memberikan kesembuhan kedapa ayahku dan segera mempertemukan kami kembali. Aamin.

Tanjung Selor, 19 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s